Selasa, 14 April 2015

Membangun Learning Trajectory dan Menerapkan ke dalam Teaching Trajectory

Tugas Membuat Peta Konsep Teori Berpikir/Belajar Siswa Perkuliahan Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Oleh Ika Noviana (14712251002) Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas), Pendidikan Dasar, Pascasarjana UNY.



A.      Review Berbagai Macam Teori Belajar/Alur Pikir Siswa

1.         Teori Behaviorisme (Behaviorism Theory)

a.        Pendidikan

Behaviorisme berfokus pada satu pandangan tertentu tentang pembelajaran: perubahan perilaku eksternal dicapai melalui penguatan (reinforcement) untuk membentuk perilaku. Skinner menemukan bahwa perilaku dapat terbentuk ketika penggunaan hadiah (reward) diberikan. Perilaku yang diinginkan dihargai, sedangkan perilaku yang tidak diinginkan dihukum. Memasukkan behaviorisme ke dalam kelas diperbolehkan pendidik untuk membantu siswa dalam unggul secara akademis dan pribadi.
Dalam lingkungan pembelajaran berbasis proyek (PBL), siswa dapat didorong untuk terlibat dengan proses belajar dan rekan-rekan mereka dalam kelompok dengan penguatan positif dari fasilitator yang terampil untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif dari keterlibatan, kontribusi dan pertanyaan. Perilaku negatif misalnya kurangnya keterlibatan, kontribusi negatif, dapat diminimalkan melalui adanya penguat (misalnya ada pujian atau perhatian).

b.        Operant Conditioning

Operant Conditioning dikembangkan oleh B.F. Skinner pada tahun 1937 dan berkaitan dengan modifikasi "perilaku sengaja (voluntary behavior)" atau perilaku instrumental. Operant Conditioning beroperasi pada lingkungan dan dikelola oleh konsekuensi. Penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment), alat-alat Operant Conditioning, adalah positif (disampaikan menyusul respon), atau negatif (ditarik setelah respon). Skinner menciptakan Skinner Box atau ruang operant conditioning untuk menguji efek dari prinsip-prinsip operant conditioning pada tikus. Dari penelitian ini, ia menemukan bahwa tikus belajar sangat efektif jika mereka sering diberi hadiah. Skinner juga menemukan bahwa ia bisa membentuk perilaku tikus melalui penggunaan hadiah, yang didapat pada gilirannya akan diterapkan untuk belajar manusia juga.

c.         Classical Conditioning

Meskipun operant conditioning memainkan peran terbesar dalam diskusi mekanisme perilaku, classical conditioning (atau pengkondisian Pavlov atau pengkondisian responden) juga merupakan proses perilaku analisis penting yang tidak perlu mengacu pada proses internal mental atau lainnya. Eksperimen Pavlov dengan anjing memberikan contoh yang paling akrab prosedur classical conditioning. Dalam pengkondisian sederhana, anjing itu disajikan dengan rangsangan seperti cahaya atau suara, dan kemudian makanan ditempatkan di mulut anjing. Setelah beberapa pengulangan urutan ini, cahaya atau suara dengan sendirinya menyebabkan anjing untuk mengeluarkan air liur. Meskipun Pavlov mengusulkan beberapa proses fisiologis tentatif yang mungkin terlibat dalam pengkondisian klasik, ini belum dikonfirmasi. Gagasan classical conditioning membantu behavioris John Watson menemukan mekanisme kunci dibalik bagaimana manusia memperoleh perilaku yang mereka lakukan, yang menemukan refleks alami yang menghasilkan respon yang dipertimbangkan.

2.         Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory)

Bandura (1986) mengembangkan dan mendefinisikan teori kognitif sosial yang mengusulkan bahwa orang-orang tidak didorong oleh kekuatan batin atau secara otomatis dibentuk dan dikendalikan oleh rangsangan eksternal (external stimuli). Sebaliknya, fungsi manusia dijelaskan dalam hal model of triadic reciprocal determinism. Dalam model ini, yang dapat divisualisasikan sebagai sebuah segitiga sama sisi, perilaku, kognitif dan faktor personal lainnya dan peristiwa lingkungan semua beroperasi sebagai penentu berinteraksi satu sama lain. Sifat orang kemudian didefinisikan dalam perspektif triadic ini.
Penelitian atas teori ini mengandung banyak sisi yang membantu menjelaskan bagaimana orang memperoleh pengetahuan tentang perilaku sosial manusia yang diperlukan agar dapat berfungsi. Salah satu aspek penting pembelajaran sosial manusia adalah modeling.
Pada tahun 1963 Bandura dan Walters pertama kali menggunakan istilah pembelajaran sosial untuk menunjukkan bahwa pembelajaran akan sangat membosankan jika orang harus bergantung pada trial and error untuk belajar. Untungnya, sebagian besar perilaku manusia dipelajari observasional melalui pemodelan.
Modeling adalah metode pembelajaran sosial yang sangat efisien yang bisa dilakukan dialami sendiri, hanya melalui pengamatan orang lain. Kelima jenis perilaku sosial yang dapat dipelajari dengan cara ini adalah:
a.         keterampilan kognitif dan perilaku baru;
b.        memperkuat atau memperlemah hambatan yang dipelajari sebelumnya;
c.         petunjuk sosial atau rangsangan;
d.        bagaimana menggunakan lingkungan;
e.         ketika menjadi terangsang dan apa reaksi emosional untuk mengekspresikan. (Tuckman, 1992)
Self efficacy adalah konsep utama dalam teori perilaku dan motivasi Bandura. Menurut Bandura self efficacy adalah penilaian seseorang tentang kemampuan sendiri untuk melakukan suatu tindakan berhasil. Teori Bandura memprediksi bahwa orang akan memilih, bertahan, dan mengeluarkan usaha pada tugas-tugas yang mereka percaya bahwa mereka dapat melaksanakan dengan sukses. Teori ini juga menunjukkan bahwa orang akan menghindari situasi yang mereka percaya melebihi kemampuan mereka.

3.         Pemrosesan Informasi Kognitif (Cognitive Information Processing)

          Banyak teori kognitif yang fokus pada bagaimana orang berpikir (memproses) informasi yang mereka terima dari lingkungan, bagaimana mereka merasakan rangsangan di sekitar mereka, bagaimana mereka "menempatkan" apa yang telah mereka rasakan dalam ingatan mereka, bagaimana mereka "menemukan" apa yang telah mereka pelajari ketika mereka harus menggunakannya, dan sebagainya. Teori tersebut secara kolektif dikenal sebagai teori pemrosesan informasi.
          Dilihat dari pemrosesan informasi awal, terutama yang muncul pada tahun 1960-an, pembelajaran manusia digambarkan sebagai mirip dengan bagaimana komputer memproses informasi. Namun segera menjadi jelas bahwa analogi komputer adalah terlalu sederhana-bahwa orang sering memikirkan dan menafsirkan informasi dengan cara yang sulit untuk menjelaskan dalam cara yang kaku, algoritmik, satu hal yang selalu memimpin untuk menuju sebuah prediksi-lain yang mencirikan komputer (misalnya, Hacker, Dunlosky, & Graesser, 2009a; Marcus, 2008; Minsky, 2006; Rubin, 2006). Pada saat ini, perspektif umum dikenal sebagai teori pemrosesan informasi mencakup berbagai teori-teori tertentu tentang bagaimana orang secara mental menangani informasi baru.

4.         Teori Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning Theory)

Pembelajaran bermakna menentang hafalan dan mengacu pada cara belajar di mana pengetahuan baru diperoleh berhubungan dengan pengetahuan sebelumnya (Ausubel 2000). Dalam teori pembelajaran kognitif, berdasarkan pada teori pemrosesan informasi manusia, 3 proses inti pembelajaran adalah: bagaimana pengetahuan dikembangkan; bagaimana pengetahuan baru yang terintegrasi ke dalam sistem kognitif yang sudah ada; dan bagaimana pengetahuan menjadi otomatis.
Ausubel (1967: 10) memfokuskan pada pembelajaran bermakna sebagai "jelas diungkapkan dan tepat dibedakan pengalaman sadar yang muncul ketika berpotensi memaknai tanda, simbol, konsep, atau proposisi terkait dan dimasukkan dalam struktur kognitif individu tertentu" (Takač 2008, p. 26).

5.         Pendekatan Perkembangan (Developmental Approach)

Jean Piaget seorang ahli biologi Swiss percaya bahwa anak-anak mengembangkan kognisi dan pengetahuan dengan maju melalui serangkaian tahap perkembangan. Hipotesis Piaget bahwa setiap tahap terjadi secara berurutan, dan tidak ada Jean Piaget Jean Piagettahap yang terlewatkan. Untuk berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya, anak-anak melalui asimilasi, akomodasi, dan keseimbangan, memperoleh dan membangun skema yang ditransfer ke tahap berikutnya dan dibangun lebih lanjut secara konstruksi (wikipedia.org).
Pusat teori Piaget adalah pada empat tahap perkembangan yang terjadi pada anak-anak:

a.        Tahap Sensorimotorik (masa kelahiran bayi sampai dengan usia 2 tahun):

1)        Kecerdasan ini ditunjukkan melalui aktivitas motorik tanpa menggunakan simbol-simbol.
2)        Pengetahuan tentang dunia terbatas karena didasarkan pada interaksi fisik/pengalaman.
3)        Anak-anak mendapatkan serapan objek sekitar 7 bulan.
4)        Perkembangan fisik (mobilitas) memungkinkan anak untuk mulai mengembangkan kemampuan intelektual baru.
5)        Beberapa kemampuan simbolik (bahasa) yang dikembangkan pada akhir tahap ini.

b.        Tahap Pra-Operasional (masa balita usia 2 tahun sampai dengan usia 7 tahun):

1)        Kecerdasan ditunjukkan melalui penggunaan simbol-simbol, penggunaan bahasa dewasa, dan memori dan imajinasi dikembangkan.
2)        Berpikir dilakukan secara tidak logis.
3)        Dominan berpikir egosentris (kegagalan untuk memahami bagaimana titik pandang orang lain yang mungkin berbeda dari mereka sendiri).

c.         Tahap Operasional Konkrit (masa sekolah usia 7 sampai dengan 11 tahun):

1)        Kecerdasan ini ditunjukkan melalui manipulasi logis dan sistematis simbol yang berkaitan dengan benda-benda konkrit.
2)        Pemikiran operasional berkembang.
3)        Pemikiran egosentris berkurang.

d.        Tahap Operasional Formal (masa remaja usia 11 tahun ke atas):

1)        Kecerdasan ini ditunjukkan melalui manipulasi logis dari simbol yang berkaitan dengan konsep-konsep abstrak.
2)        Pada awal periode ini kembali ke pemikiran egosentris.
3)        Banyak orang dewasa tidak pernah mencapai tahap ini.

6.         Teori Formasi Sosial (Social Formation Theory)

Formasi sosial berasal dari tulisan-tulisan Karl Marx menunjuk struktur dan tahap masyarakat, seperti dalam organisasi sosial dan pembangunan sosial (pra-kapitalis, kapitalis, komunis). Seiring waktu dan dengan penyebarannya ke disiplin yang berbeda seperti antropologi, studi budaya, sejarah, psikologi, dan studi agama, penggunaan dan makna istilah yang diperoleh kurang tepat.
Marx merumuskan formasi sosial sebagai struktur masyarakat dalam totalitas dan perubahannya, tidak selalu sebagai "tahap", dari waktu ke waktu. Formasi sosial menentukan lokasi dan artikulasi kekuasaan sekitar sumbu ras, etnis, gender, seksualitas, kelas, dan bangsa. Formasi sosial menandai bentuk masyarakat dan bagian mereka dan perubahan melalui ruang dan waktu ke waktu.
Konseptualisasi dari formasi sosial menuntut berbeda jenis latihan membaca sastra. Alih-alih pembelajaran biasa yang menjelaskan bagaimana ras, jenis kelamin, kelas, bangsa, dan seksualitas muncul dan diwakili dalam teks, formasi sosial sebagai cara membaca memupuk jenis lain dari kesadaran, fokus perhatian tentang bagaimana teks resmi menunjukkan lokasi kekuasaan sebagai ekspresi hubungan antar ras, jenis kelamin, kelas, bangsa, dan seksualitas. Tergantung pada kekhususan spesifik teks, unsur-unsur tertentu akan datang ke depan sementara yang lain melayang-layang di latar belakang; bukannya menyoroti satu hubungan atas yang lain, formasi sosial mempertimbangkan kembali konstelasi tertentu kekuatan dalam interaksi yang unik yang membentuk fitur radikal tertentu pada satu teks dan bukan yang lain. Formasi sosial membawa berbagai jenis kewaspadaan terhadap kekuatan bermain, baik secara formal dan naratif dalam teks.

7.         Belajar Penemuan (Discovery Learning)

Discovery Learning adalah teknik pembelajaran berbasis penyelidikan dan dianggap sebagai pendekatan konstruktivis berbasis pendidikan. Hal ini didukung oleh karya teoretisi belajar dan psikolog Jean Piaget, Jerome Bruner, dan Seymour Papert. Bruner berpendapat bahwa "Praktek dalam menemukan untuk diri sendiri mengajarkan seseorang untuk memperoleh informasi dengan cara membuat informasi lebih mudah layak dalam pemecahan masalah" (Bruner, 1961, hal. 26).
Discovery Learning dapat terjadi ketika siswa tidak disediakan dengan jawaban yang tepat melainkan bahan untuk menemukan jawaban sendiri. Discovery Learning terjadi dalam memecahkan situasi masalah di mana siswa mengacu pada pengalamannya sendiri dan pengetahuan sebelumnya dan merupakan metode pengajaran di mana siswa berinteraksi dengan lingkungannya dengan mengeksplorasi dan memanipulasi benda, bergulat dengan pertanyaan dan kontroversi atau melakukan percobaan.

8.         Pendekatan Konstruktivis (Constructivist Approach)

Banyak teori kognitif sekarang menggambarkan belajar lebih sebagai membangun pengetahuan daripada langsung memperolehnya dari dunia luar. Beberapa teori (tetapi tidak semua) mengacu pada perspektif ini sebagai konstruktivisme daripada teori pemrosesan informasi.
Peserta didik menggabungkan berbagai hubungan spasial yang telah mereka pelajari menjadi representasi mental yang umum tentang bagaimana lingkungan mereka. Dalam situasi ini, kita melihat proses konstruksi yang terjadi secara terpisah dalam setiap siswa, yang mencerminkan perspektif yang dikenal sebagai konstruktivisme individu.
Perspektif konstruktivis juga menempatkan kendali untuk mengarahkan pembelajaran tepat di tangan siswa, guru tidak bisa "menuangkan" pengetahuan ke dalam kepala siswa. Dalam situasi lain, orang-orang bekerja sama untuk memahami dunia mereka. Sebuah perspektif yang dikenal sebagai konstruktivisme sosial meliputi teori-teori yang berfokus pada bagaimana orang bekerja sama untuk menciptakan pengetahuan baru.

9.         Pendekatan Sosial (Social Approach)

a.        Lev Vygotsky

Lev Vygotsky, seorang psikolog Rusia, mengembangkan pandangan pembelajaran konstruktivisme sosial, di mana zona perkembangan proksimal menjabat sebagai prinsip utama bagi pendidik dan teori-teori pembelajaran di masa mendatang. Lev Vygotsky memperluas ide-ide Piaget dan secara khusus melihat bagaimana interaksi dan kolaborasi sosial memungkinkan peserta didik untuk belajar.
Vygotsky sangat tertarik pada perkembangan anak dan bagaimana interaksi sosial berdampak pada perkembangan anak. Dari sana ia menghasilkan beberapa konsepnya lebih besar seperti internalisasi dan Zone of Proximal Development (ZPD).
"Apa yang anak bisa lakukan dengan bantuan hari ini, ia akan mampu melakukan sendirian besok" (Vygotsky, hal. 81, 1978). Tidak seperti teori Piaget, di mana seorang anak akan hanya dipengaruhi oleh masyarakat, Vygotsky berusaha untuk menjelaskan perkembangan anak melalui praktek kolaboratif transformatif yang melibatkan pengaruh budaya, alat-alat budaya, dan individu lainnya (Vianna, 2006). Penekanan pada pembelajaran perkembangan ini adalah kolaborasi, yang mengarah ke Vygotsky’s Zone of Proximal Development (ZPD). Vygotsky menyatakan bahwa ZPD (Zone of Proximal Development) adalah "jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti yang ditentukan oleh pemecahan masalah independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan melalui pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa, atau bekerja sama dengan rekan-rekan yang lebih mampu" (Vygotsky, hal. 86, 1978). Atau dengan kata lain, ZPD adalah area di mana anak tidak bisa memecahkan masalah sendirian tapi dapat berhasil menyelesaikannya di bawah bimbingan atau bekerja sama dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih maju (Woolfolk, 2000, p. 47).

b.        Components of Cognitive Apprenticeship: Scaffolding

Wood, Bruner, dan Ross (1976, seperti yang dikutip oleh Rollins Burch, 2007) pertama kali menggunakan istilah scaffolding. Scaffolding digambarkan sebagai sistem pendukung yang membantu anak-anak mencapai sukses pada tugas-tugas yang terlalu sulit bagi mereka untuk mencapai sendiri.
Dalam dunia pendidikan, instructional scaffolding adalah proses dukungan sementara yang membantu peserta didik karena mereka membangun pemahaman dan kemajuan karena tidak dapat melakukan sesuatu, untuk dapat melakukan tugas dengan bantuan, untuk dapat melakukannya secara mandiri.
Guru memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi tugas-tugas yang berada dalam ZPD siswa; tugas yang berada di luar siswa tingkat kemampuan ini. Guru, tutor sebaya atau fasilitator lain memberikan bantuan dan dukungan kepada siswa hanya dengan tugas-tugas yang siswa tidak dapat menyelesaikan secara mandiri dan hanya pada waktu tertentu dari kebutuhan. Siswa dapat berbuat lebih banyak dan lebih pada mereka sendiri, dukungan berkurang sampai siswa mampu melakukan tugas tanpa bantuan.

c.         Collaborative Learning

Collaborative Learning merupakan metode pembelajaran yang mendorong pembelajaran melalui kerjasama teman sebaya bekerja menuju tujuan bersama menjadi bertanggung jawab untuk belajar satu sama lain sebaik kemampuan mereka. Dengan demikian, keberhasilan seorang siswa membantu siswa lain untuk menjadi sukses (Gokhale, 1995).

d.        Collaborative Knowledge-Building (CKB)

Konsep Collaborative Knowledge-Building (CKB) diperkenalkan oleh Scardamalia dan Bereiter (1994) dalam penelitian belajar mereka di sekolah, di mana mereka mengusulkan bahwa sekolah harus berfungsi sebagai masyarakat membangun pengetahuan. Collaborative Knowledge-Building adalah model pembelajaran di mana ada beberapa tahapan dibedakan yang merupakan siklus membangun pengetahuan pribadi dan sosial.
Sebuah kondisi yang diperlukan untuk membangun pengetahuan kolaboratif (Collaborative Knowledge-Building) adalah bahwa peserta didik membawa pengetahuan individu sebelumnya ke dalam situasi belajar dan memperjelas perbedaan pandangan dan pendapat dalam rangka interaksi.

e.         Social Learning Theory

Activity Theory dalam Social Learning Theory bahwa ketika individu terlibat dan berinteraksi dengan lingkungan mereka, mereka menyibukkan diri dengan produksi dan menggunakan alat-alat untuk mendapatkan hasil. Teori ini berasal dari Uni Soviet dan dibangun oleh penelitian dan studi Lev Vygotsky, Alexander Luria, dan Alexei Nikolaevich Leont'ev.
Engeström mempresentasikan gagasan bahwa Activity Theory bukanlah proses belajar individu. Sebaliknya, belajar adalah fungsi sistem aktivitas yang menyesuaikan dan berkembang berdasarkan peserta didik, alat-alat dan proses yang digunakan, dan tantangan yang berkembang ketika bekerja dalam sebuah komunitas sosial (Engeström, 1999).

f.         Problem Based Learning (PBL)

PBL (Problem Based Learning) didasarkan pada teori-teori pendidikan Vygotsky, Dewey, dan lain-lain, dan berhubungan dengan teori-teori sosial-budaya dan pembelajaran konstruktivis dan desain pembelajaran. PBL secara sosial inheren dan kolaborasi dalam metodologi dan mengajarkan soft skills siswa serta domain konten yang spesifik dan keterampilan.
Dalam PBL adalah student centered. Para siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu, peran guru dan siswa bergeser, sebagai guru harus memfasilitasi dan berkolaborasi dengan murid-muridnya untuk mengembangkan makna konstruksi pada siswa. Oleh karena itu belajar menjadi pengalaman timbal balik bagi siswa dan guru.

10.     Pendekatan Teknologi (Technological Approach)

a.        Connectivism

Connectivism mengusulkan bahwa belajar dan pengetahuan ada dalam jaringan. Dasar teori belajar ini adalah Teori Aktivitas dan Konstruktivisme Sosial Vygotsky, melalui interaksi, kegiatan sosial dan belajar kolaborasi terjadi. Menurut George Siemens, "Connectivism menyajikan pembelajaran sebagai koneksi/proses pembentuk jaringan" (Siemens, 2005).
Connectivism dikembangkan oleh George Siemens karena keyakinan bahwa teori-teori pembelajaran saat ini termasuk Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme gagal untuk mengatasi sifat pembelajaran di era digital. Pengetahuan tidak lagi hanya berada dalam pikiran individu, namun didistribusikan di beberapa jaringan ditingkatkan dengan teknologi, di mana belajar "terjadi di luar orang atau dalam organisasi" (Siemens, 2005). Connectivism bertujuan untuk mengatasi tidak hanya ledakan pengetahuan tetapi cara teknologi telah mengubah cara kita "hidup, berkomunikasi, dan belajar" (Siemens, 2005).

b.        Collaborative Learning

Pada desain collaborative learning seperti kolaborasi mode on-line yaitu internet dan berbagai software sosial telah memberikan peluang untuk berpartisipasi dalam Komunitas Computer-Supported Collaborative Learning (CSCL). Selanjutnya, pendidikan jarak jauh telah berubah melalui pengembangan dan penggunaan sinkron (real time, pesan instan & panggilan konferensi) dan asynchronous (tidak secara real time, wiki, forum diskusi, blog & google docs) komunikasi on-line. Sebelumnya program pembelajaran on-line dan jarak jauh tidak mampu pada kesempatan ini sehingga peserta didik diisolasi. Isolasi membatasi kemampuan sepenuhnya mengembangkan kognisi.

c.         Collaborative Knowledge-Building (CKB)

Pandangan belajar CKB sebagai proses sosial menggabungkan beberapa tahapan variasi yang merupakan siklus membangun pengetahuan pribadi dan sosial. Dukungan komputer dapat digunakan untuk mengintegrasikan berbagai tahapan dalam siklus membangun pengetahuan untuk meningkatkan lingkungan belajar dan mempromosikan membangun pengetahuan kolaborasi. Komputer dan lingkungan belajar saat ini tidak cukup mendukung sifat pembelajaran kolaboratif evolusi membangun pengetahuan dalam kelompok. Sekarang ada software seperti Web 2.0 dan perangkat lunak sosial yang mungkin lebih cukup mendukung pembangunan pengetahuan kolaboratif dalam lingkungan pembelajaran berbasis komputer.

d.        Complexity Theory

Teori kompleksitas, juga dikenal sebagai Teori Sistem, menggambarkan kehidupan sebagai lingkungan yang selalu berubah. Kompleksitas sebagai teori belajar memerlukan pembelajaran open-ended dan dengan demikian memberikan desain universal untuk belajar—dimana pembelajaran dapat diakses oleh semua peserta didik melalui Web dan hyper-linking. Internet Hyperlink memungkinkan pembaca untuk bercabang dari arah yang berbeda dan memberikan contoh yang baik dari kompleksitas yang mirip dengan proses pemikiran manusia.
Dalam Complexity Theory menggunakan kemampuan Web dan hyper-linking, siswa dapat membentuk jalur pembelajaran individual, gagasan yang cocok dalam kerangka desain instruksional Complexivist, yang menekankan pentingnya penemuan individu dan konstruksi/membangun pengetahuan. Pendidikan harus menjadi proses yang berkesinambungan di mana peserta didik terus berkembang untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan pengetahuan baru.

e.         Cognitive Apprenticeship

Metode Cognitive Apprenticeship termasuk model, pembinaan dan scaffolding pada bagian dari guru, disampaikan dan direfleksi oleh guru dan siswa, dan eksplorasi lebih lanjut pada bagian dari siswa (Cennamo & Holmes, 1999). Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi, siswa dapat mengakses ahli untuk mentor, pemandu, atau memberi mereka arah. Aplikasi Simulasi Model masalah otentik dan situasi untuk memfasilitasi eksperimen dan penemuan.

f.         Differentiated Instruction (DI)

Differentiated Instruction (DI), yang didirikan oleh Carol Ann Tomlinson, berfokus pada bagaimana pembelajaran berkualitas dapat memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Diferensiasi mengklaim "menanggapi kebutuhan semua peserta didik" dengan memenuhi kebutuhan peserta didik individu berdasarkan tingkat kesiapan, kepentingan, dan kemampuan mereka.
Ada beberapa aplikasi yang berbeda dari model ini digunakan saat ini. Satu melihat bagaimana DI dapat secara efektif diimplementasikan ketika mengintegrasikan teknologi ke dalam lingkungan kelas. Hal ini juga yang terbaik dilakukan ketika menangani kecerdasan belajar yang berbeda (multiple intelligences Howard Gardner) dan gaya belajar. Model pembelajaran ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua siswa di kelas heterogen (Tomlinson, 2005).

g.        Universal Design for Learning (UDL)

Paradigma UDL, pertama kali dikembangkan oleh Center for Applied Special Technology (CAST), merupakan sarana menghargai berbagai ragam gaya belajar individu tanpa memerlukan adaptasi. Kerangka teori ini mendorong keberhasilan untuk semua peserta didik dengan inheren memiliki fleksibilitas untuk mendukung kebutuhan masing-masing individu. UDL berlaku untuk semua peserta didik, tidak secara eksklusif untuk individu penyandang cacat, tetapi bertujuan untuk menyediakan semua orang dengan akses yang sama untuk belajar.

h.        Desain Pembelajaran: CAI (Computer Assisted Instruction) sebagai Alat Pembelajaran

Computer Assisted Instruction (CAI) mengacu pada program komputer yang menyediakan materi pembelajaran, beberapa di antaranya juga menilai dan menyimpan catatan pemahaman siswa. (Britannica, 2011). Menggunakan komputer memungkinkan pembelajaran untuk memasukkan multimedia seperti teks, grafik, suara dan video yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan gaya belajar yang berbeda.

i.          Knowledge Forum

Knowledge Forum adalah kolaboratif, asynchronous, software pendidikan yang dirancang untuk membantu dan membangun pengetahuan dukungan pedadogis, praktek dan masyarakat. Ini adalah program konstruktivis sosial yang tujuannya adalah untuk mendorong pola wacana siswa yang membangun pengetahuan bermakna dan membentuk koneksi alami pada dunia nyata.
Peserta didik berkontribusi ke database masyarakat dengan teks dan kemampuan grafis, yang terletak di server dan dapat diakses oleh semua orang di komunitas itu. Kontribusi yang dibuat siswa ke database yang diawetkan dan terus-menerus tersedia untuk pencarian, pengambilan, komentar, dan revisi. Perangkat lunak ini juga memungkinkan semua pengguna termasuk mahasiswa, pendidik, dan ahli lain untuk berkolaborasi dan berkontribusi ke database yang host pengetahuan dari semua peserta.
Knowledge Building Communities (KBC) menekankan pembangunan ide-ide baru melalui kolaboratif, wacana demokrasi dalam lingkungan belajar. Sosial budaya KBC menyediakan kesempatan dan alat untuk peserta untuk menciptakan pengetahuan baru yang terus berkembang dan jutaan peserta didik dapat berkontribusi.

B.       Hubungan Berbagai Macam Teori Belajar/Alur Pikir Siswa

Fokus Behaviorisme pada perubahan perilaku eksternal dicapai melalui penguatan (reinforcement) untuk membentuk perilaku. Skinner menemukan bahwa perilaku dapat terbentuk ketika penggunaan hadiah (reward) diberikan. Perilaku yang diinginkan dihargai, sedangkan perilaku yang tidak diinginkan dihukum.
Dalam lingkungan pembelajaran berbasis proyek (PBL), siswa dapat didorong untuk terlibat dengan proses belajar dan rekan-rekan mereka dalam kelompok dengan penguatan positif dari fasilitator yang terampil untuk meningkatkan tindakan-tindakan positif dari keterlibatan, kontribusi dan pertanyaan. Perilaku negatif misalnya kurangnya keterlibatan, kontribusi negatif, dapat diminimalkan melalui adanya penguat (misalnya ada pujian atau perhatian).
Dalam Teori Kognitif Sosial, fungsi manusia dijelaskan dalam hal model of triadic reciprocal determinism. Dalam model ini, yang dapat divisualisasikan sebagai perilaku, kognitif dan faktor personal lainnya dan peristiwa lingkungan semua beroperasi sebagai penentu berinteraksi satu sama lain.
Teori Kognitif Sosial menjelaskan bagaimana orang memperoleh pengetahuan tentang perilaku sosial manusia yang diperlukan agar dapat berfungsi. Salah satu aspek penting pembelajaran sosial manusia adalah modeling. Modeling adalah metode pembelajaran sosial yang sangat efisien yang bisa dilakukan dialami sendiri, hanya melalui pengamatan orang lain. Hal yang dapat dipelajari dari pengamatan orang lain seperti keterampilan kognitif dan perilaku baru; memperkuat atau memperlemah hambatan yang dipelajari sebelumnya; petunjuk sosial atau rangsangan; bagaimana menggunakan lingkungan; ketika menjadi terangsang dan apa reaksi emosional untuk mengekspresikan. (Tuckman, 1992)
Perspektif umum dikenal sebagai teori pemrosesan informasi mencakup berbagai teori-teori tentang bagaimana orang secara mental menangani informasi baru. Bagaimana orang berpikir (memproses) informasi yang mereka terima dari lingkungan, bagaimana mereka merasakan rangsangan di sekitar mereka, bagaimana mereka "menempatkan" apa yang telah mereka rasakan dalam ingatan mereka, bagaimana mereka "menemukan" apa yang telah mereka pelajari ketika mereka harus menggunakannya, dan sebagainya.
Pembelajaran bermakna menentang hafalan dan mengacu pada cara belajar di mana pengetahuan baru diperoleh berhubungan dengan pengetahuan sebelumnya (Ausubel 2000). Dalam teori pembelajaran kognitif, berdasarkan pada teori pemrosesan informasi manusia
Pendekatan perkembangan dimana pandangan Piaget bahwa anak-anak memperoleh dan membangun skema yang ditransfer ke tahap perkembangan berikutnya dan dibangun lebih lanjut secara konstruksi.
Marx merumuskan formasi sosial sebagai struktur masyarakat dalam totalitas dan perubahannya, tidak selalu sebagai "tahap", dari waktu ke waktu. Formasi sosial menentukan lokasi dan mengungkapkan kekuasaan sekitar sumbu ras, etnis, gender, seksualitas, kelas, dan bangsa. Formasi sosial menandai bentuk masyarakat dan bagian mereka dan perubahan melalui ruang dan waktu ke waktu.
Discovery Learning mengajarkan memperoleh informasi dengan cara membuat informasi lebih mudah layak dalam pemecahan masalah. Discovery Learning terjadi dalam memecahkan situasi masalah di mana siswa mengacu pada pengalamannya sendiri dan pengetahuan sebelumnya dan merupakan metode pengajaran di mana siswa berinteraksi dengan lingkungannya dengan mengeksplorasi dan memanipulasi benda, bergulat dengan pertanyaan dan kontroversi atau melakukan percobaan.
Konstruktivisme menggambarkan belajar lebih sebagai membangun pengetahuan daripada langsung memperolehnya dari dunia luar. Perspektif konstruktivis menempatkan kendali untuk mengarahkan pembelajaran tepat di tangan siswa, guru tidak bisa "menuangkan" pengetahuan ke dalam kepala siswa. Dalam situasi lain, orang-orang bekerja sama untuk memahami dunia mereka. Sebuah perspektif yang dikenal sebagai konstruktivisme sosial meliputi teori-teori yang berfokus pada bagaimana orang bekerja sama untuk menciptakan pengetahuan baru.
Secara umum pendekatan sosial mempelajari bagaimana interaksi dan kolaborasi sosial memungkinkan peserta didik untuk belajar (Collaborative). Vygotsky mengembangkan pandangan pembelajaran konstruktivisme sosial. Dia sangat tertarik pada perkembangan anak dan bagaimana interaksi sosial berdampak pada perkembangan anak. Perlunya scaffolding untuk membantu siswa mencapai Zone of Proximal Development. Sekolah pun harus berfungsi sebagai masyarakat membangun pengetahuan (Collaborative Knowledge-Building).
Fungsi sistem aktivitas yang menyesuaikan dan berkembang berdasarkan peserta didik, alat-alat dan proses yang digunakan, dan tantangan yang berkembang ketika bekerja dalam sebuah komunitas sosial (Social Learning Theory). Dalam Problem Based Learning peran guru dan siswa bergeser, sebagai guru harus memfasilitasi dan berkolaborasi dengan murid-muridnya untuk mengembangkan makna konstruksi pada siswa.
Perubahan kehidupan masyarakat saat ini dengan majunya perkembangan era digital teknologi dan informasi membuat pemanfaatan Teknologi dan Informasi Komputer dalam pendekatan teknologi dianggap efektif dalam proses belajar siswa, belajar dan pengetahuan ada dalam jaringan (Connectivism). Kolaborasi mode on-line  (Collaborative Learning) yaitu internet dan berbagai software sosial telah memberikan peluang untuk berpartisipasi dalam Komunitas Computer-Supported Collaborative Learning (CSCL). Sekarang ada software dan perangkat lunak sosial yang mungkin lebih cukup mendukung pembangunan pengetahuan kolaboratif dalam lingkungan pembelajaran berbasis komputer (Collaborative Knowledge-Building). Melalui Web dan hyper-linking, siswa dapat membentuk jalur pembelajaran individual, gagasan yang cocok dalam kerangka desain instruksional Complexivist, yang menekankan pentingnya penemuan individu dan konstruksi/membangun pengetahuan. Pendidikan harus menjadi proses yang berkesinambungan di mana peserta didik terus berkembang untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan pengetahuan baru.
Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi, siswa dapat mengakses ahli untuk mentor, pemandu, atau memberi mereka arah (scaffolding). Differentiated Instruction dapat secara efektif diimplementasikan ketika mengintegrasikan teknologi ke dalam lingkungan kelas. Hal ini juga yang terbaik dilakukan ketika menangani kecerdasan belajar dan gaya belajar yang berbeda. Pada Universal Design for Learning dan desain pembelajaran CAI (Computer Assisted Instruction) merupakan sarana untuk menghargai gaya belajar setiap siswa sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Knowledge Forum merupakan program konstruktivis sosial yang tujuannya adalah untuk mendorong pola wacana siswa yang membangun pengetahuan bermakna dan membentuk koneksi alami pada dunia nyata.


C.      Peta Konsep Hubungan Berbagai Macam Teori Belajar/Alur Pikir Siswa

 
Gambar 1. Peta Konsep Hubungan Berbagai Macam Teori Belajar/Alur Pikir Siswa

 

D.      Sumber

Ormrod, Jeanne Ellis. 2012. Human Learning 6th Edition. United States of America: Pearson Education


1 komentar: