Minggu, 08 Maret 2015

Ikhlas Pikir dan Ikhlas Hati dalam Belajar



Refleksi Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar 
Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Perkuliahan Rabu, 04 Maret 2015

Dalam filsafat ilmu, terdapat ilmu yang ada dan ilmu yang mungkin ada. Ilmu yang ada itu bersifat tetap sedangkan ilmu yang mungkin ada bersifat berubah. Ilmu yang bersifat tetap disebut Permenidesiansi sedangkan ilmu yang bersifat berubah disebut Heraklitosionisme. Ilmu yang ada itu di dalam pikiran sedangkan ilmu yang mungkin ada itu di luar pikiran. Ilmu yang ada di dalam pikiran disebut Idealisme sedangkan ilmu yang ada di luar pikiran (kenyataan) disebut Realisme. Ilmu yang ada itu konsisten (ilmunya para dewa) sedangkan ilmu yang mungkin ada itu cocok (ilmunya anak). Ilmu berdasarkan konsistensinya disebut Koherentisme sedangkan ilmu berdasarkan kecocokannya disebut Korespondensi. Contoh ilmu yang konsisten yaitu Matematika murni. Contoh ilmu berdasarkan kecocokannya yaitu ilmunya anak kecil, anak kecil mencocokkan suatu benda, jika anak kecil diberi suatu benda maka anak tersebut akan memikirkan benda tersebut. Ilmu yang ada berdasarkan ketentuannya yaitu Analitik sedangkan ilmu yang mungkin ada berdasarkan sebabnya yaitu Sintetik. Ilmu yang ada dimana kebenarannya mendahului peristiwanya disebut Apriori sedangkan ilmu yang mungkin ada dimana kebenarannya mengikuti kejadiannya disebut Aposteriori. Dalam Apriori, walaupun belum terjadi tetapi sudah benar. Contoh Apriori yaitu minggu depan akan bertemu kembali pada hari Rabu, 11 Maret 2015 untuk perkuliahan Learning Trajectory bersama Prof. Dr. Marsigit. Anak kecil berpikir secara Aposteriori yaitu ada bendanya baru dipikirkan. Ilmu yang ada menggunakan logika yaitu Logisisme. Ilmu yang ada menggunakan akal (rasio) adalah Rasionalisme sedangkan ilmu yang mungkin ada berdasarkan pengalaman adalah Empirisme. 

Ilmu yang ada itu Langit, ilmu yang mungkin ada itu Bumi. Sebenar-benar ilmu yang tetap dan tidak berubah adalah berdasarkan Firman Tuhan yang berada di atas Langit. Ilmu yang ada terdapat Aksioma supaya manusia tidak keliru pada Tuhan tetapi bisa dipikirkan oleh para Dewa sehingga terdapat ketentuan-ketentuan. Ilmu yang berdasar ketentuan tersebut adalah Analitik sedangkan ilmu yang berdasarkan sebabnya adalah Sintetik sehingga cocok dengan kejadian-kejadiannya. Wadah dari ilmu yang ada adalah Formalisme sedangkan wadah dari ilmu yang mungkin ada adalah Intuism. Isi dari ilmu yang ada adalah Fondasionalisme sedangkan ilmu yang mungkin ada adalah Strukturalisme. Antara ilmu yang ada dan ilmu yang mungkin ada lahirlah ilmu yang menjembatani kedua ilmu tersebut yaitu Sintetik Apriori dengan tokohnya yaitu Immanuel Kant sehingga sekarang lahir Realistik Matematika dalam pembelajaran Matematika. Sebenar-benar ilmu pengetahuan menurut Immanuel Kant adalah harus ada pengalaman dan logika, harus Sintetik dan Apriori. Jika hanya Sintetik-Aposteriori maka tidak akan mampu memikirkan dan merencanakan sehingga tidak memperoleh apa-apa. Maka ilmu itu harus Amaliah dan Ilmiah.

  Gambar 1. Skema Hakekat Ilmu


Fenomena 200 tahun yang lalu lahirlah pandangan Auguste Comte yang menolak Filsafat. Auguste Comte merupakan mahasiswa Politeknik Perancis yang di drop out yang kemudian melahirkan karya berjudul “Positive” yang dapat membuat kemajuan sekaligus kehancuran suatu bangsa. Dalam buku tersebut, Comte menyebutkan bahwa kalau suatu bangsa ingin maju menggunakan metode Scientific. Langkah-langkah metode Scientific terdiri dari (1) mengamati, (2) menanya, (3) mengasosiasikan/menalar, (4) mencoba/mengeksperimenkan, dan (5) mengkomunikasikan/mempresentasikan/mencipta. Namun metode Scientific berakibat tidak menggunakan agama karena agama disebut tidak logis. 
Indonesia sebagai negara Timur negara Pancasila seharusnya berpikir dari tingkat Materi, Formal, Normatif, dan yang paling tinggi yaitu Spiritual. Metode Scientific yang ditambah dengan teknologi maka dapat melampaui dunia sehingga lahirlah Dajal. Dajal dalam Filfasat adalah sistem yang tidak dikehendaki. Kerajaan dunia saat ini dari tingkat paling bawah yaitu Archaic (suku-suku batu), Tribal (suku pedalaman seperti suku Jawa), Tradisional (semua masyarakat beragama Timur), Feodal (penjajah), Modern, Pos Modern (Industrialisasi), Kontemporer/Kekinian (Power Now). Dimana Spiritual hanya berada di Tribal dan Tradisional. Kerajaan dunia dari tingkat Feodal, Modern, Pos Modern, dan Kontemporer yang mempunyai pilar dengan kendaraannya yaitu Kapitalisme, Pragmatisme, Hedonisme, Utilitarisme, Materialisme, dan Liberalisme setiap hari menggempur Indonesia dari tingkat berpikir Materi, Formal, Normatif, dan yang tertinggi Spiritual sehingga Indonesia mengalami Disorientasi/kebingungan (krisis). Jika kita lebih suka arisan daripada ta’ziyah maka kita sudah termasuk Kapitalisme. Jika kita enggan membaca tetapi ingin nilai baik maka kita sudah termasuk Pragmatisme. Jika kita ingin nilai baik tetapi tidak mau mengerjakan tugas maka kita termasuk Hedonisme. Jika hanya melihat sesuatu dari materi maka kita termasuk Materialisme. Jika kita sudah berani kepada orang tua maka kita termasuk Liberalisme. Contoh lain dari fenomena Auguste Comte yaitu menunda-nunda sholat karena lebih sibuk memainkan handphone baru.
Panglima/Anak Emas Scientific seperti Negara-negara Barat, USA, Eropa, Jepang, dll. Indonesia pun akan menuju ke sana karena Trisaksi Indonesia sudah tenggelam. Indonesia sudah tidak lagi mandiri bidang politik, ekonomi, dan budaya. Trisakti Indonesia sudah diganti dengan kerja, kerja, dan kerja. Hal tersebut merupakan pengakuan Presiden sudah tidak bisa menaiki Kapal Trisakti. Presiden sudah tidak sanggup, Menteri pun sudah tidak sanggup sehingga Menteri menggunakan metode Scientific sesuai dengan pandangan Auguste Comte “Positive” yang berlabel Kurikulum 2013. Seharusnya metode disesuaikan dengan mata pelajaran masing-masing. Metode Scientific yang menjadikan Anak Emas Power Now dengan ilmu-ilmu dasar seperti Fisika, Kimia, Biologi murni, dll yang menempatkan Agama/Spiritual di tingkat terendah. Ilmu-ilmu dasar yang berada di beberapa perguruan tinggi di Indonesia sehingga menteri diangkat dari perguruan tinggi tersebut karena visi tersebut. Visi yang bisa menghancurkan intuisi siswa. Maka bangunkan dan pertahankan intuisi siswa, bukan beramai-ramai bersama-sama menghancurkan intuisi siswa dengan ilmu-ilmu dasar.
Gambar 2. Skema Pendidikan Indonesia Kontemporer oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Mengapa ada doa dalam setiap pembelajaran? Berkaitan dengan keyakinan beragama dalam menjalani hidup. Metode yang seharusnya dalam mencari bekal hidup tidak hanya dengan pikiran tetapi dengan hati/keyakinan juga. Ilmu bisa menuju ke hati bisa juga pikiran, terangnya hati karena ilmu juga. Itulah kehidupan modern saati ini yang menimbulkan kontradiksi/anomali. Kontradiksi yang terjadi dalam diri kita disebut komplikasi. Semakin kesana akan semakin kontradiksi/anomali dan komplikasi, dalam Spiritual semakin besar kemunafikannya. Maka belajarlah dengan ikhlas baik ikhlas pikir (berusaha mengerti) dan ikhlas hati (diniati dengan do’a) karena sebenar-benar ilmu adalah menempatkan Spiritual di tingkat tertinggi.


Oleh:
Ika Noviana
NIM. 14712251002
Pendidikan Dasar A
Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)
Program Pascasarjana UNY

Sabtu, 21 Februari 2015

Hermenetika Membangun Hidup Bersilaturahim



Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Mata Kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar
Perkuliahan Rabu, 18 Februari 2015

Hermenetika hidup merupakan menginteraksikan apa yang dipikirkan dalam kehidupan, proses menerjemahkan dan diterjemahkan. Pentingnya hermenetika dalam membangun hidup ini. Hermenetika hidup dapat dijelaskan seperti berikut:
Gambar 1. Garis Hermenetika Hidup

1.    Hermenetika hidup garis yang melingkar (lingkaran)  yaitu siklus kehidupan yang akan terus berulang seperti siklus hari yang terus berputar atau berulang.
2.     Hermenetika hidup berbentuk garis lurus yaitu kehidupan yang terus berlanjut maju tidak berhenti dan tidak kembali ke belakang atau terulang seperti dalam kehidupan  ada saatnya usia kita menjadi tua dan tidak dapat kembali ke usia muda.
3.        Hermenetika hidup seperti garis berbentuk spiral adalah silaturahim atau interaksi antara langit (atas) dan bumi (bawah). Contoh dalam kehidupan seperti kegiatan pendidik memfasilitasi siswa belajar Matematika. Hermentika hidup bagi pendidik dalam memfasilitasi siswa belajar Matematika yaitu pentingnya mengajarkan siswa berdasarkan pengalaman kehidupan siswa yang konkrit melalui kegiatan-kegiatan atau contoh dalam kehidupan siswa sehari-hari, tidak langsung pada definisi ilmu Matematika itu sendiri. Definisi ilmu Matematika berada di atas sedangkan kegiatan atau contoh berada di bawah (yang dapat disentuh). Contoh lain yaitu silaturahim atau interaksi antara guru (atas) dengan siswa (bawah), logis (atas) dengan cocok (bawah), takdir (atas) dengan ikhtiar (bawah), pikir (atas) dengan fakta (bawah), dll.
4.        Garis hermenetika hidup jika semakin ke atas adalah firman Tuhan yang abadi. Semua adalah milik-Nya dan akhirnya akan kembali pada-Nya.

Siswa belajar membangun hidup seperti membangun pengalaman, tanggung jawab, pengertian, cinta, dll. Dalam belajar diperlukan hermenetika membangun hidup dengan cara menginteraksikan apa yang dipikirkan dengan fakta yang ada. Seperti belajar Matematika yang telah dijelaskan di atas. Siswa belajar berdasarkan fakta dan pengalaman melalui contoh atau kegiatan sehingga siswa mampu membangun konsep ilmu atau definisi Matematika. Disinilah terjadi interaksi antara contoh atau kegiatan siswa dengan ilmu atau definisi Matematika. Hermenetika hidup yang membangun hidup berdasarkan pengalaman akan melahirkan intuisi siswa sehingga siswa akan memiliki nurani dalam perasaannya. Bahaya jika siswa sudah tidak memiliki intuisi atau pemahaman lagi. Siswa akan kehilangan nuraninya jika sudah tidak memiliki intuisinya. Maka pentingnya hermenetika hidup dalam kehidupan seperti di dunia pendidikan.
Gambar 2. Skema Hermenetika Hidup oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Pada pertemuan ke-2 kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar tanggal 18 Februari 2015 Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. mengadakan kuis tentang mendefinisikan suatu kata menggunakan satu kata atau frasa yang terlintas dalam pikiran mahasiswa. Ternyata banyak kata yang tidak dapat didefinisikan. Kata-kata yang tidak dapat didefinisikan tersebut memberi pelajaran kepada mahasiswa pendidikan dasar konsentrasi praktisi (guru kelas) bahwa tidak ada gunanya memaksakan kata-kata yang tidak dapat didefinisikan untuk didefiniskan, sama seperti jika seorang guru memaksakan siswanya untuk bisa atau paham padahal guru itu sendiri juga tidak paham. Guru yang bertindak seperti itu termasuk guru yang munafik. Guru yang baik akan memfasilitasi siswa dan membelajarkan siswanya, tidak hanya menuntut siswa agar bisa. Tidak hanya siswa, guru pun perlu selalu belajar untuk membangun hidup.

Oleh:
Ika Noviana
NIM 14712251002
Program Pascasarjana
Pendidikan Dasar
Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)


Belajar dan Berpikir dalam Learning Trajectory


Dosen Pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Mata Kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar
Perkuliahan Rabu, 11 Februari 2015




A.      Learning Trajectory

Learning Trajectory merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana siswa belajar serta bagaimana siswa berpikir yang diaplikasikan dalam Teaching Trajectory tentang bagaimana guru menyelenggarakan proses belajar mengajar. Dalam tingkatan sekolah dasar, siswa masih berpikir secara konkrit berdasarkan fakta dan pengalaman sehingga guru memfasilitasi siswa belajar ilmu misalnya Matematika secara konkrit berdasarkan fakta dan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari. Jika guru memfasilitasi siswa belajar Matematika secara konkrit berdasarkan fakta dan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari maka siswa akan dapat membangun konsep berdasarkan intuisinya yang melahirkan nurani siswa. Semua tingkatan dari TK, SD, SMP, SMA, dewasa, bahkan manula pernah berpikir dari tahap ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi berdasarkan teori Bloom. Guru sebaiknya melatih siswa untuk terbiasa berpikir melalui tahap-tahap tersebut sehingga siswa dapat merefleksikan apa yang telah dipahami.

 
Gambar 1. Skema Learning Trajectory oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

B.       Cerdas dan Kompeten
Belajar untuk menjadi cerdas dan kompeten tidaklah instan, melainkan melalui tahap-tahap berikut:
1.         Niat
Niat belajar yang ikhlas untuk mencari ilmu atas ridho Allah SWT. Nawaitu kita dalam mencari ilmu untuk kebaikan dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tetapi untuk orang banyak pula. Kita berniat belajar karena kita merasa membutuhkan ilmu tersebut dan masih kurangnya ilmu yang kita miliki dengan menyingkirkan rasa sombong kita yang merasa telah pandai sehingga muncullah keikhlasan dalam belajar mencari ilmu.
2.         Sikap
Setelah niat belajar untuk mencari ilmu secara ikhlas akan timbul sikap dalam belajar. Sikap dalam belajar bermacam-macam seperti:
a.      Sikap terhadap materi pelajaran. Perlunya sikap positif terhadap materi pelajaran yang akan melahirkan minat dan motivasi dalam belajar sehingga akan lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran.
b.      Sikap terhadap pendidik. Peserta didik perlu bersikap positif terhadap pendidik agar tercipta kenyamanan dalam belajar bersama pendidik sehingga peserta didik mampu menyerap materi pelajaran dengan baik.
c.    Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik perlu bersikap positif terhadap proses pembelajaran sehingga pencapaian hasil belajar dapat maksimal.
3.         Pengetahuan (ilmu)
Niat belajar mencari ilmu dengan ikhlas disertai sikap positif dalam belajar akan diperolehnya pengetahuan (ilmu). Ilmu tersebut dapat bermanfaat atau tidak tergantung dari niat awal belajar mencari ilmu tersebut karena apa dan untuk apa. Ilmu dapat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta dapat berbagi ilmu yang didapat dengan orang banyak.
4.         Ketrampilan
Berdasarkan ilmu yang diperoleh maka kita akan memiliki keterampilan. Keterampilan tersebut merupakan hasil belajar pada ranah psikomotorik yang terbentuk menyerupai hasil belajar kognitif. Dengan keterampilan yang dimiliki maka mampu untuk mengerjakan atau melaksanakan sesuatu dengan baik. Di sinilah ilmu tidak hanya sebagai konsep namun dapat diaplikasikan melalui kegiatan menggunakan keterampilan tersebut.
5.         Pengalaman
Dari semua hal yang telah dilalui untuk memperoleh ilmu maka kita akan mempunyai pengalaman-pengalaman dalam hidup. Bahkan seorang bayi pun sudah memiliki pengalaman dilahirkan ke dunia ini. Semakin banyak ilmu yang kita peroleh akan semakin banyak pula pengalaman yang kita miliki. Pengalaman-pengalaman tersebut akan mendewasakan kita dalam membangun hidup dan pentingnya belajar berdasarkan pengalaman.
 
Gambar 2. Tahap-tahap Menjadi Cerdas dan Kompeten

C.       Asumsi Adult Learning
Asumsi Adult Learning terdiri dari:
1.         Motivasi/niat belajar yang ikhlas.
2.         Mandiri/sikap belajar yang selalu positif/baik.
3.      Bisa bekerja sama karena ilmu tidak akan berguna jika egois/sombong dan tidak mampu bekerja sama.
4.       Rasa ingin tahu (curiosity) sebagai sifat dasar manusia yang haus akan pengetahuan (ilmu). Manusia akan berusaha mencari tahu untuk memuaskan keinginan tentang hal yang tidak diketahuinya sama seperti belajar seumur hidup.
5.       Mampu beradaptasi (ruang dan waktu) yang dapat berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan zaman agar tidak mudah terjerumus dalam ilmu/budaya yang menyesatkan.
6.         Adopsi dengan mengadosi hal-hal yang baik untuk ditiru dan meninggalkan hal-hal yang buruk.
7.       Tingkatan manfaat ilmu dengan cara berbagi ilmu yang diperoleh. Tingkat pertama (terendah) yaitu untuk diri sendiri (intrinsik), ilmu yang diperoleh hanya untuk diri sendiri, tidak berbagi dengan orang lain sehingga tidak bermanfaat bagi orang lain. Tingkat kedua yaitu berbagi untuk orang lain (ekstrinsik), ilmu yang diperoleh tidak hanya untuk diri sendiri tetapi dibagi untuk orang lain sehingga ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi orang lain. Kemudian tingkat ketiga (tertinggi) yaitu untuk jejaring sistemik (networking), pada tingkat ini ilmu dibagi tidak hanya untuk orang lain saja tetapi sudah mendunia melalui jejaring sistemik sehingga banyak orang di dunia yang dapat memperoleh ilmu yang kita bagi di jejaring sistemik tersebut.
8.     Membangun hidup melalui pendidikan yaitu Learning Trajectory. Disini muncul konsep hermenetika membangun hidup. Hermenetika yang menginteraksikan apa yang dipikirkan dalam kehidupan, proses menerjemahkan dan diterjemahkan.

Oleh:
Ika Noviana
NIM 14712251002
Program Pascasarjana
Pendidikan Dasar
Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)